Catatan Kecil Waldy

11 Desember 2008

Empati by Andy F. Noya

Filed under: Kata-kata — wagast @ 5:30 am
Tags: , ,

EMPATI
by Andy F. Noya

Suatu malam, sepulang kerja, saya mampir di sebuah restoran cepat
saji di kawasan Bintaro. Suasana sepi. Di luar hujan. Semua pelayan
sudah berkemas. Restoran hendak tutup. Tetapi mungkin melihat wajah
saya yang memelas karena lapar, salah seorang dari mereka memberi aba-
aba untuk tetap melayani. Padahal, jika mau, bisa saja mereka menolak.
Sembari makan saya mulai mengamati kegiatan para pelayan restoran.
Ada yang menghitung uang, mengemas peralatan masak, mengepel lantai
dan ada pula yang membersihkan dan merapikan meja-meja yang berantakan.

Saya membayangkan rutinitas kehidupan mereka seperti itu dari hari ke
hari. Selama ini hal tersebut luput dari perhatian saya. Jujur saja,
jika menemani anak-anak makan di restoran cepat saji seperti ini,
saya tidak terlalu hirau akan keberadaan mereka. Seakan mereka antara
ada dan tiada. Mereka ada jika saya membutuhkan bantuan dan mereka
serasa tiada jika saya terlalu asyik menyantap makanan.

Namun malam itu saya bisa melihat sesuatu yang selama ini seakan tak
terlihat. Saya melihat bagaimana pelayan restoran itu membersihkan
sisa-sisa makanan di atas meja. Pemandangan yang sebenarnya biasa-
biasa saja. Tetapi, mungkin karena malam itu mata hati saya yang
melihat, pemandangan tersebut menjadi istimewa.

Melihat tumpukan sisa makan di atas salah satu meja yang sedang
dibersihkan, saya bertanya-tanya dalam hati: siapa sebenarnya yang
baru saja bersantap di meja itu? Kalau dilihat dari sisa-sisa makanan
yang berserakan, tampaknya rombongan yang cukup besar. Tetapi yang
menarik perhatian saya adalah bagaimana rombongan itu meninggalkan
sampah bekas makanan.

Sungguh pemandangan yang menjijikan. Tulang-tulang ayam berserakan di
atas meja. Padahal ada kotak-kotak karton yang bisa dijadikan tempat
sampah. Nasi di sana-sini. Belum lagi di bawah kolong meja juga kotor
oleh tumpahan remah-remah. Mungkin rombongan itu membawa anak-anak.

Meja tersebut bagaikan ladang pembantaian. Tulang belulang
berserakan. Saya tidak habis pikir bagaimana mereka begitu tega
meninggalkan sampah berserakan seperti itu. Tak terpikir oleh mereka
betapa sisa-sisa makanan yang menjijikan itu harus dibersihkan oleh
seseorang, walau dia seorang pelayan sekalipun.

Sejak malam itu saya mengambil keputusan untuk membuang sendiri sisa
makanan jika bersantap di restoran semacam itu. Saya juga meminta
anak-anak melakukan hal yang sama. Awalnya tidak mudah. Sebelum ini
saya juga pernah melakukannya. Tetapi perbuatan saya itu justru
menjadi bahan tertawaan teman-teman. Saya dibilang sok kebarat-
baratan. Sok menunjukkan pernah ke luar negeri. Sebab di banyak
negara, terutama di Eropa dan Amerika, sudah jamak pelanggan membuang
sendiri sisa makanan ke tong sampah. Pelayan terbatas karena tenaga
kerja mahal.

Sebenarnya tidak terlalu sulit membersihkan sisa-sisa makanan kita.
Tinggal meringkas lalu membuangnya di tempat sampah. Cuma butuh
beberapa menit. Sebuah perbuatan kecil. Tetapi jika semua orang
melakukannya, artinya akan besar sekali bagi para pelayan restoran.

Saya pernah membaca sebuah buku tentang perbuatan kecil yang punya
arti besar. Termasuk kisah seorang bapak yang mengajak anaknya untuk
membersihkan sampah di sebuah tanah kosong di kompleks rumah mereka.
Karena setiap hari warga kompleks melihat sang bapak dan anaknya
membersihkan sampah di situ, lama-lama mereka malu hati untuk
membuang sampah di situ.

Belakangan seluruh warga bahkan tergerak untuk mengikuti jejak sang
bapak itu dan ujung-ujungnya lingkungan perumahan menjadi bersih dan
sehat. Padahal tidak ada satu kata pun dari bapak tersebut. Tidak ada
slogan, umbul-umbul, apalagi spanduk atau baliho. Dia hanya
memberikan keteladanan. Keteladanan kecil yang berdampak besar.

Saya juga pernah membaca cerita tentang kekuatan senyum. Jika saja
setiap orang memberi senyum kepada paling sedikit satu orang yang
dijumpainya hari itu, maka dampaknya akan luar biasa. Orang yang
mendapat senyum akan merasa bahagia. Dia lalu akan tersenyum pada
orang lain yang dijumpainya. Begitu seterusnya, sehingga senyum tadi
meluas kepada banyak orang. Padahal asal mulanya hanya dari satu
orang yang tersenyum.

Terilhami oleh sebuah cerita di sebuah buku “Chicken Soup”, saya
kerap membayar karcis tol bagi mobil di belakang saya. Tidak perduli
siapa di belakang. Sebab dari cerita di buku itu, orang di belakang
saya pasti akan merasa mendapat kejutan. Kejutan yang menyenangkan.
Jika hari itu dia bahagia, maka harinya yang indah akan membuat dia
menyebarkan virus kebahagiaan tersebut kepada orang-orang yang dia
temui hari itu. Saya berharap virus itu dapat menyebar ke banyak orang.

Bayangkan jika Anda memberi pujian yang tulus bagi minimal satu orang
setiap hari. Pujian itu akan memberi efek berantai ketika orang yang
Anda puji merasa bahagia dan menularkan virus kebahagiaan tersebut
kepada orang-orang di sekitarnya.

Anak saya yang di SD selalu mengingatkan jika saya lupa mengucapkan
kata “terima kasih” saat petugas jalan tol memberikan karcis dan uang
kembalian. Menurut dia, kata “terima kasih” merupakan “magic words”
yang akan membuat orang lain senang. Begitu juga kata “tolong” ketika
kita meminta bantuan orang lain, misalnya pembantu rumah tangga kita.

Dulu saya sering marah jika ada angkutan umum, misalnya bus,
mikrolet, bajaj, atau angkot seenaknya menyerobot mobil saya. Sampai
suatu hari istri saya mengingatkan bahwa saya harus berempati pada
mereka. Para supir kendaraan umum itu harus berjuang untuk mengejar
setoran. “Sementara kamu kan tidak mengejar setoran?” Nasihat itu
diperoleh istri saya dari sebuah tulisan almarhum Romo Mangunwijaya.
Sejak saat itu, jika ada kendaraan umum yang menyerobot seenak
udelnya, saya segera teringat nasihat istri tersebut.

Saya membayangkan, alangkah indahnya hidup kita jika kita dapat
membuat orang lain bahagia. Alangkah menyenangkannya jika kita bisa
berempati pada perasaan orang lain. Betapa bahagianya jika kita
menyadari dengan membuang sisa makanan kita di restoran cepat saji,
kita sudah meringankan pekerjaan pelayan restoran.

Begitu juga dengan tidak membuang karcis tol begitu saja setelah
membayar, kita sudah meringankan beban petugas kebersihan. Dengan
tidak membuang permen karet sembarangan, kita sudah menghindari orang
dari perasaan kesal karena sepatu atau celananya lengket kena permen
karet.

Kita sering mengaku bangsa yang berbudaya tinggi tetapi berapa banyak
di antara kita yang ketika berada di tempat-tempat publik, ketika
membuka pintu, menahannya sebentar dan menoleh kebelakang untuk
berjaga-jaga apakah ada orang lain di belakang kita? Saya pribadi
sering melihat orang yang membuka pintu lalu melepaskannya begitu
saja tanpa perduli orang di belakangnya terbentur oleh pintu tersebut.

Jika kita mau, banyak hal kecil bisa kita lakukan. Hal yang tidak
memberatkan kita tetapi besar artinya bagi orang lain. Mulailah dari
hal-hal kecil-kecil. Mulailah dari diri Anda lebih dulu. Mulailah
sekarang juga.

10 Desember 2008

Pulau Weh, Sabang (NAD)

Filed under: Islands — wagast @ 3:58 pm
Tags: , , ,

weh island, sabang, NAD Pulau Weh, Sabang (NAD)

Pulau Weh (Weh Island) yang terletak di utara pulau sumatera, tepatnya berada pada utara provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan berada pada teritori Indonesia.

Pulau weh mempunyai luas areal + 4.000 km dari barat ke timur, yang menjadi pulau ini sangat indah dikarenakan konstruksi pulau dari bebatuan, hingga landmarknya yang khas dan akan terbuai mata memandang, lereng, pantainya hingga penduduknya yang ramah membuat siapa saja yang singgah betah.

Pulau weh dikelilingi oleh beberapa pulau-pulau kecil seperti rondo, klah, rubiah, seulako yang bersama mengkover populasi + 154 km2 yang semuanya terkonsentrasi di pulau weh.

Kepulauan Raja Ampat (Papua barat)

Filed under: Islands — wagast @ 3:11 pm
Tags: , ,

Kepulauan Raja Ampat (Papua Barat)

Kepulauan Raja Ampat

Kepulauan raja ampat yang terletak pada provinsi papua barat merupakan, tepatnya di bagian barat laut dari pulau papua yang memiliki luas areal daratan dan lautan mencapai 9,8 juta acre. Dengan melihat posisinya di kawasan segitiga terumbu karang yang tepat pada pusat keragaman terumbu karang dunia, maka laut pada kawasan kepulauan raja ampat diindikasikan sebagai kawasan yang paling kaya keragaman hayatinya di dunia.

Kumpulan terumbu karang yang luas dan kaya ini membuktikan bahwa terumbu karang di kepulauan ini dapat bertahan terhadap ancaman-ancaman seperti pemutihan karang dan penyakit, ada dua jenis ancaman yang kini sangat membahayakan kelangsungan hidup terumbu karang diseluruh dunia, kuatnya arus samura di raja ampat memegang peran penting dalam menyebar larva karang dan ikan melewati samudra hindia dan pasifik ke ekosistem karang lainnya. Kemampuan tersebut didukung oleh keragaman dan tingkat ketahanannya menjadikannya sebagai kawasan yang memiliki prioritas utama untuk dilindungi.

Pada tahun 2002, The Nature Conservancy (TNC) dan para mitra lainnya mengadakan suatu penelitian ilmiah untuk memperoleh data dan informasi tentang ekosistem laut, daerah bakau dan hutan Kepulauan Raja Ampat. Survei ini menunjukkan bahwa terdapat sejumlah 537 jenis karang, yang sungguh menakjubkan karena mewakili sekitar 75% jenis karang yang ada di dunia. Ditemukan pula 828 jenis ikan dan diperkirakan jumlah keseluruhan jenis ikan di daerah ini 1.074. Di darat, penelitian ini menemukan berbagai tumbuhan hutan, tumbuhan endemik dan jarang, tumbuhan di batuan kapur serta pantai peneluran ribuan penyu.Kegiatan manusia di kepulauan ini belum memperlihatkan dampak negatif yang berarti dibandingkan dengan kawasan terumbu karang di tempat lainnya di Indonesia, namun ancaman-ancaman karena praktek-praktek yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan bom, racun (sianida), pengambilan telur penyu dan penebangan hutan yang tidak memperhatikan aspek-aspek kelestarian diperkirakan akan mengganggu keutuhan ekosistem yang ada. Pemerintah Indonesia baru saja menetapkan kawasan Raja Ampat sebagai kabupaten baru yang mandiri, yang merupakan kesempatan besar bagi masyarakat setempat untuk mengelola sumberdaya alam Raja Ampat untuk masa depan kehidupan mereka. Pemerintahan baru ini juga menawarkan peluang untuk turut mempertimbangkan aspek pelestarian alam dalam perencanaan tata ruang kabupaten baru.

Raja Ampat tersusun atas empat pulau besar, yaitu Waigeo, Batanta, Salawati dan Misool serta ratusan pulau kecil. Kepulauan ini merupakan bagian dari bentangan laut daerah Kepala Burung yang termasuk pula kawasan Teluk Cenderawasih, yaitu taman nasional laut terbesar di Indonesia. Kekayaan bumi cendrawasih yang begitu potensi besar harus kita pelihara.  Semoga kekayaan bangsa ini lebih dijaga oleh kita anak2 bangsa Indonesia.

view of raja ampat

Theme: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.